Sektor Pariwisata Indonesia Tahun Ini “Lieur”

oleh -
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenakan pakaian adat Bali saat melakukan kunjungan kerja di Pulau Dewata tersebut, Agustus 2019 lalu. Foto: IG-@jokowi

JALAJAHNUSAE.com – Badai belum berlalu. Selalu saja “musibah” datang bertubi-tubi. Begitu sangat terasa, sehingga kondisi ini juga memukul dunia pariwisata tanah air.Dibuat limbung dan nanar menatap masa depan. Orang Jawa Barat bilang; lieur.

Padahal catatan gemilang sebelumnya  sempat ditorehkan dengan naiknya jumlah wisatawan mancanegara (wisman).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisman tembus angka 15,8 juta orang, dengan ASPA – Average Spending Per Arrival USD 1.220 per kunjungan.

Jika dihitung devisanya, sudah menembus USD 19,29 miliar, masuk top tiga besar nasional.

Sayangnya, pencapaian tersebut  lagi-lagi diterpa ketegangan sosial dan peristiwa politik sepanjang 2019 ini. Alih-alih menongkrak target kunjungan wisman,sebaliknya banyak dari agent perjalanan luar negeri yang menunda kedatangan ke Indonesia.

Travel Advice berseliweran di beberapa negara yang selama ini menyumbang cukup besar devisa dari sektor pariwisata.

Amerika,Inggris dan Australia telah mengingatkan kepada warganya untuk berpergian ke Indonesia. Banyak pertimbangannya. Salah satunya, meningkatnya suhu ketegangan sosial di penghujung bulan September 2019.

Dari peristiwa Jayapura, Wamena, asap di Sumatera dan Kalimantan, dan demonstrasi di banyak kota, termasuk Jakarta, 23-24 September ini.

“Tentu, rangkaian peristiwa itu sangat menekan sektor pariwisata,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Begitu ketegangan Jayapura meletus beberapa waktu lalu, ada 5 negara pasar utama yang langsung mengeluarkan travel advice buat warganya yang akan melakukan perjalanan ke Indonesia, yakni Australia, Prancis, New Zealand, Canada, dan Inggris.