Gelombang Kedua Virus Corona Lebih Menyulitkan

oleh -
Pencipta Perawatan kulit Prancis, Anissa Mekrabech (30), mengenakan masker pelindung yang ia buat untuk para tunarungu. Foto: AFP

JALAJAHNUSAE.com – Pandemi corona (Covid-19) tampaknya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Pakar kesehatan dari Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat meyakini bahwa akan ada gelombang kedua wabah virus corona yang lebih menyulitkan. Tapi itu terjadi di Korsel dan Amerika pada musim dingin tahun ini.

Seperti dilansir CNN, Rabu (22/4/2020), Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan, Jung Eun-kyeong, meyakini bahwa negaranya akan menghadapi gelombang kedua pandemi virus corona.

“Kecuali herd immunity (kekebalan kelompok) tercapai lewat penyebaran natural atau lewat vaksin, datang saat musim gugur atau musim dingin, karena sebagian besar orang tidak memiliki kekebalan, ada kemungkinan-kemungkinan,” ujar Jung.

Respon Korea Selatan terhadap pandemi ini dipuji sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Sebagian besar karena dorongan besar-besaran oleh para pejabat kesehatan untuk melakukan perluasan pengujian.

Menurut penghitungan Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins, setidaknya 10.694 orang telah terpapar virus corona di Korsel, dengan korban meninggal mencapai 238 orang.

“Kami mengerti bahwa penularannya nol atau sangat rendah,” kata Jung.

Sementara itu menurut Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, juga memperkirakan wabah corona akan merebak lagi pada musim dingin tahun ini.

“Ada kemungkinan virus iru kembali menyerang bangsa ini pada musim dingin mendatang, yang akan semakin menyulitkan dibandingkan yang kita alami saat ini,” kata Robert.

“Kita kemungkinan akan menghadapi wabah flu dan virus corona dalam waktu yang bersamaan,” ujar Robert.

Wabah flu di AS sudah berlangsung sejak September 2019. Meski penularannya terbilang rendah, tetapi jumlah penduduk yang dirawat cukup tinggi.

Bahkan tercatat ada 168 anak di AS yang meninggal akibat flu. Pada tahun lalu, wabah flu menewaskan sekitar 34.200 penduduk Negeri Paman Sam, dari 35.5 juta orang yang terjangkit.

(adh/cnn)