Pabrik Masih Tutup, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tersendat

oleh -
Penyelesaian proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung diperkirakan akan mengalami pelambatan akibat tertahannnya bahan baku dari pabrik di China. Foto:IG-@keretacepat_id

JALAJAHNUSAE.com – Proyeksi pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) yang ditargetkan rampung pada 2021 kemungkinan akan terjadi pelambatan. Hal ini disebabkan tersendatnya pasokan bahan baku proyek prestisius akibat masih tutupnya pabrik-pabrik di China.

Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Chandra Dwiputra mengungkapkan dampak virus corona di China membuat pasokan bahan baku KCJB tersendat. Padahal pihaknya menargetkan proyek tersebut rampung tahun depan.

Dia menjelaskan wabah virus tersebut membuat pabrik di China belum bisa beroperasi karena masih tutup. Oleh karenanya bahan baku tidak bisa diproduksi.

“Ada satu yang mereka (kontraktor) concern adalah material. Material kalau kita impor dari sana, kalau di sana produksi pabriknya belum hidup juga, itu nanti kendala di situ,” kata Chandra saat ditemui di Kantor Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jakarta Pusat, Jumat (21/2/2020).

Namun demikian Chandra menyampaikan progres pembangunan KCJB sekarang sudah 43,45%.

Sementara pembebasan lahan tinggal menyisakan satu bidang tanah. Itu akan diselesaikan pada pekan depan.

“Tinggal satu bidang saja (yang belum). Mungkin minggu depan sudah selesai,” sebutnya.

Saat ini, pembangunan fisik proyek sedang dikerjakan di seluruh titik. Pihaknya terus menggenjot agar masing-masing titik tersambung dengan baik.

“Jadi sekarang PR (pekerjaan rumah) kita adalah bagaimana menyambung jangan berhenti. Jadi balok yang diangkat sudah banyak, di Cikarang, yang di Bandung juga sudah,” jelasnya.

Chandra tak menjanjikan apakah begitu proyek kelar di 2021 maka akan beroperasi di tahun yang sama. Hal itu karena pihaknya juga harus memastikan aspek keselamatan.

“Jadi gini, kita maksimalkan sekarang konstruksinya dulu jadi di 2021. Setelah itu kan sertifikasi, yang kita masih belum tahu fix-nya nanti berapa lama itu masalah sertifikasi, sampai kita layak operasi. Kenapa? kita angkut orang, keselamatan nomor satu. Jadi kita nggak mau coba-coba,” tambahnya.

Chandra menjelaskan cukup banyak material kereta cepat yang dipasok dari China walaupun jumlahnya tidak sampai 50%.

“Kemarin sudah ada beberapa material yang ketemu yang kebetulan stoknya habis, di sini habis, kita minta dari sana (China) terbatas juga. Kita coba kirim itu (dari China). Kalau nggak ada lagi, kita cari gimana cara substitusinya. Jadi masalah teknis itu,” lanjutnya.

Beberapa material yang mulai habis di Indonesia dan pasokannya berkurang di China seperti waterproofing material, pipa, dan material teknis lainnya.

Chandra belum bisa memperkirakan apakah tersendatnya pengiriman bahan baku bakal membuat progres pembangunan kereta cepat molor dari 2021. Tapi dirinya masih meminta kontraktor bisa mengakali agar tetap sesuai target.

“Kita lihat nanti dulu ya. Saya maksa supaya mereka tidak pengaruh dulu ya,” tambahnya.

Ratusan pekerja proyek dari China juga masih terjebak di negaranya. Klik halaman berikutnya

Chandra menyemprot kontraktor Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) asal China dalam menyikapi dampak virus corona ke proyek strategis nasional (PSN) tersebut.

Chandra menjelaskan imbas virus corona membuat 300 pekerja proyek KCJB asal China yang sedang pulang ke kampung halamannya tertahan di negaranya.

Pasalnya penerbangan China-Indonesia sementara ditutup. Untuk itu, dirinya meminta kontraktor fokus memaksi

“Jadi saya masih menekan ke kontraktor kalau tenaga kerja upayakan maksimum dari Indonesia,” katanya.

Namun kontraktor asal China ini memiliki sudut pandang berbeda.

“Jadi mereka sudut pandangnya mereka itu ‘ini kan bentar lagi selesai’. Nah saya tekankan kemarin, Anda jangan mindsetnya yang seperti itu. Kan kita tahu (virus) SARS juga 6 bulan baru selesai, ‘Anda harus berpikir seperti itu’,” jelasnya.

Untuk itu dirinya meminta kontraktor mengubah mindsetnya agar proyek KCJB tidak terlalu terdampak negatif akibat tertahannya 300 pekerja di China.

“Anda (kontraktor) harus berpikir, sekarang kalau nggak datang (pekerja dari China) bagaimana caranya. Jadi saya sedang push kontraktor supaya bikin plan-nya sesuai kondisi saat ini. Jangan berandai-andai nunggu mereka datang dulu,” tambahnya.

(adh/dtk)