Pendapatan Hotel Anjlok Hingga 30 Persen, Ribuan Karyawan Mulai Di-PHK

oleh -
Industri perhotelan di Amerika tengah dihantam badai wabah Covid-19. Pendapatan hotel anjlok hingga 30 persen. Foto:IG-@hotelamericasco

JALAJAHNUSAE.com – Pembatasan perjalanan baik untuk wisata maupun bisnis, kebijakan menjaga jarak sosial, pembatasan pertemuan dan penyelenggaraan acara berdampak langsung terhadap tekanan permintaan hotel.

Tidak saja di Indonesia, negara sekuat Amerika saja juga “klimpungan” dihantam wabah virus corona (Covida-19).

Menurut JP Morgan, pendapatan hotel per kamar yang tersedia atau revenue per available room RevPAR) di Amerika Serikat anjlok lebih dari 30 persen, dibanding sebelum masa pandemi.

Catatan 8-14 Maret tahun ini, dibandingkan dengan 10-19 Maret tahun lalu juga menunjukkan penurunan yang mengejutkan.

Menurut STR Global, tingkat hunian telah berubah dari 53 persen pada tahun 2019 menjadi minus 24,4 persen tahun ini.

Ada pun tarif rata-rata harian untuk kamar juga merosot lebih dari 10 persen dengan RevPAR anjlok 32,5 persen.

Ekonomi Amerika Serikat pada umumnya menunjukkan tanda-tanda ketegangan karena dampak Covid-19 terhadap bisnis keseluruhan.

Tak terkecuali, ditengah kemerosotan ekonomi, CEO Marriott International Arne Sorenson menegaskan, dirinya tak akan menerima gaji satu sen pun hingga akhir 2020.

Dengan pernyataannya ini, dia menjadi salah satu dari sejumlah petinggi perusahaan yang tidak akan menerima sisa gaji tahun ini, seiring pandemi Covid-19.

Sorensen mengatakan, dia belum pernah melihat virus ini dan menganggapnya tidak biasa.

Untuk perusahaan sebesar Marriott yang sudah berusia 92 tahun dan telah menjadi saksi Great Depression, Perang Dunia II, dan banyak krisis ekonomi lainnya, pandemi Corona adalah sesuatu.

“Saya pastikan, langkah ini akan diikuti jajaran eksekutif lainnya. Mereka akan menerima gaji 50 persen,” tegas Sorensen seperti yang dikutip dari laman Yahoo Finance, Minggu (21/3/2020).

Lepas dari itu, secara umum industri perhotelan hancur lebur dihantam Covid-19. Hal ini menyusul tingkat hunian yang terus anjlok karena berbagai kebijakan.

Sorensen menyebut saham perusahaan sejumlah hotel besar pun terus melorot karena hal ini.

Selain Marriott, jaringan hotel besar utama lainnya mulai menutup propertinya, dan memulai cuti atau pemutusan hubungan kerja (PHK) puluhan ribu karyawan di seluruh dunia.

(adh/kom)