Saatnya Pelaku Usaha Pariwisata Masuk Bursa Efek Indonesia

oleh -
Webinar KreatIPO yang bertajuk “Persiapan untuk Melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) Melalui Skema Initial Public Offering (IPO)”, di Santika Premier Dyandra Hotel & Convention Medan, Senin (19/10/2020). (Foto: Kemenparekraf)

MEDAn, Jalajahnusae.com – Pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif  saatnya masuk ke pasar modal melalui skema IPO (Initial Public Offering).

Tujuannya adalah untuk membantu pelaku usaha parekraf dalam mengembangkan usahanya melalui pasar modal Indonesia serta menjangkau investor yang lebih luas.

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf/Baparekraf, Fadjar Hutomo, dalam acara KreatIPO yang bertajuk “Persiapan untuk Melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) Melalui Skema Initial Public Offering (IPO)”, di Santika Premier Dyandra Hotel & Convention Medan, Senin (19/10/2020), mengatakan saat ini permodalan masih menjadi salah satu kendala besar bagi para pelaku usaha di Indonesia.

Sebagian besar usaha pelaku parekraf hanya mangandalkan modal sendiri, karena kesulitan untuk mendapatkan akses pinjaman ke lembaga keuangan, baik itu lembaga keuangan perbankan maupun nonperbankan.

“Hal ini yang membuat Kemenparekraf/Baparekraf menginisiasi kegiatan KreatIPO, untuk mengajak pelaku usaha parekraf mencari alternatif pendanaan bagi perusahaannya. Salah satunya dengan melantai di bursa efek melalui skema IPO,” jelas Fadjar Hutomo.

Skema IPO merupakan proses sebuah perusahaan untuk menawarkan sahamnya agar dapat dibeli oleh masyarakat umum melalui bursa efek untuk yang pertama kalinya.

Bursa Efek Indonesia telah menyediakan tiga platform, antara lain papan utama, papan pengembangan, dan papan akselerasi.