Coffee Morning Discussion Bahas Tantangan Bisnis Hotel

oleh -
Ketua PHRI Jawa Barat Herman Muchtar saat menyampaikan pemaparan dalam acara Coffee Morning Discussion di De Pavilijoen Hotel Kota Bandung,Kamis (20/2/2020). Foto: Ist

JALAJAHNUSAE.com –  Acara Coffee Morning Discussion yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat pagi ini,Kamis (20/2/2020) berjalan cukup dinamis. Berbagai hal yang terkait dengan isu-isu strategis pengembangan usaha pariwisata dibahas bersama.

Hadir dalam acara tersebut Ketua PHRI Jawa Barat Herman Muchtar,Kepala Bidang Pemasaran Disparbud Jabar Iwan Darmawan, Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung Faisal para General Manager Hotel dan undangan lainnya.

Banyak hal yang mengemuka dalam diskusi yang berlangsung di De Pavilijoen Hotel Lt 12 Jl LL.RE Martadinata (Jalan Riau), Kota Bandung tersebut.

Ketua PHRI Herman Muchtar,misalnya, menyampaikan bahwa persoalan Virtual Hotel Operator (VHO) masih menjadi tantangan bagi bisnis perhotelan. Banyak masalah krusial yang dialami pengelola hotel dalam berkerjasama dengan VHO tersebut.

“Dalam Munas PHRI di Karawang beberapa waktu lalu, saya sudah sampaikan bahwa pemerintah harus punya regulasi yang jelas dalam mengatur keberadaan VHO. Termasuk kepada pak Henky dari Kementerian Pariwisata pun ternyata belum nyambung terhadap persoalan yang terjadi di lapangan, terhadap kehadiran VHO ini,” papar Herman.

Menurut Herman, dalam diskusi panel Munas lalu Kementerian Pariwisata terlihat belum memiliki arah yang jelas terhadap berkembangnya VHO.

“Kita sampaikan soal kondisi hotel setelah ada VHO,tetapi Pak Henky sampaikan perlu ada penertiban vila-vila di kawasan puncak yang dijadikan hunian komersil layaknya hotel. Nah, disini saya lihat belum nyambung terhadap permasalahan yang kita dihadapi,” lanjut Herman menggambarkan argumentasi Asisten Deputi Investasi Pariwisata, Kemenparekraf, Hengky Manurung tersebut.

 

Dibagian lain, General Manager GH Universal Hotel Bandung Cita Hepiningtias mengemukakan bahwa tantangan pengelolaan bisnis hotel semakin kompetitif. Era digitalisasi menuntut perlu adanya inovasi dalam mensikapi tren yang terjadi saat ini.

“Kita melihat tren digitalisasi bergerak cepat. Kondisi ini juga berpengaruh terhadap pilihan orang untuk memilih property (hotel) sesuai yang diinginkan. Saya ambil contoh, ada yang namanya hotel non bintang,Bobobox. Pendirinya adalah orang-orang IT, tidak ada orang hotel di dalamnya. Hanya saya mereka mengikuti cara-cara orang hotel. Tetapi ternyata hotel model ini sekarang banyak diminati,” ungkap Cita.

Sementara itu Kepala Bidang Pemasaran Disparbud Jabar Iwan Darmawan mengemukakan permasalahan yang dihadapi dunia pariwisata, khususnya di bidang perhotelan harus diselesaikan bersama-sama.

“Tentu apa yang dihadapi sekarang, tidak bisa diselesaikan dalam satu statement kebijakan politik gubernur,bupati dan wali kota.Harus bertahap. Dimana kuncinya adalah, seperti VHO tadi bahwa dalam setiap unit kerja atau bisnis harus ada izin. Kalau tidak ada izinnya, maka kondisionil sifatnya,” kata Iwan.

Iwan menyampaikan beberapa point penting dalam pengembangan pariwisata yang diharapkan ujungnya bisa menumbuhkan okupansi hotel karena tingkat kunjungan wisatawa naik.

“Bagaimana kita membangun pariwisata dalam konteks kedepan dengan tindakan-tindakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Ada beberapa hal yang menjadi basis menuju peningkatan ekonomi dari sektor pariwisata.  Diantaranya adalah menghadirkan keunggulan produk.

Untuk quality, sekarang bukan bicara lagi tentang price. Quality itu harus memperoleh pertumbuhan ekonomi atau pajak yang dihasilkan oleh aktivitas ekonomi tinggi sehingga bisa membangun berkelanjutan.

“Tetapi saya menyarankan, bagaimana kalau di Jawa Barat jangan men-stigmakan tentang PAD dari sektor pariwisata,namun pertumbuhan ekonomi. Artinya, ekosistem dari sebuah hotel ini harus menjadi hub (penghubung) untuk meningkatkan PAD tadi,” papar Iwan.

(adh)