Apa itu Overtourism

oleh -
Overtourism mengganggu komunitas, membahayakan bangunan-bangunan berharga dan merusak pengalaman para pelancong dan penduduk lokal Foto:IG-@bornexplorersmovie

JALAJAHNUSAE.com – Bagi masyarakat awam istilah ini memang agak asing. Tapi pagi pelaku industri pariwisata tentu sudah cukup akrab ditelinga.

Overtourism adalah fenomena membludaknya turis atau wisatawan di suatu destinasi. Belakangan istilah ini kembali mengemuka, bahkan menjadi bahasan media traveling dunia dipenghujung tahun ini.

Beberapa website informasi perjalanan, sudah membuat daftar tempat-tempat yang harus dikunjungi tahun 2020. Termasuk juga, daftar tempat-tempat yang jangan dikunjungi.

Website pariwisata asal Inggris Fodor,misalnya mengeluarkan daftar ‘No Visit’ alias daftar destinasi-destinasi dunia yang disarankannya untuk jangan dikunjungi tahun 2020.

Ada alasan-alasan tertentu dalam daftar destinasi ‘Jangan Dikunjungi’. Misalnya, karena alasan keamanan, politik, overtourism, sampai wacana tiket masuk yang dinilai kemahalan.

Tercatat, ada 13 destinasi dalam daftar tersebut yang terbagi dalam 8 kategori. Untuk overtourism, destinasinya yakni Angkor Wat di Kamboja, Big Sur di California, dan Bali di Indonesia.

Overtourism merupakan suatu fenomena di mana sudah terlalu banyak kunjungan turis di suatu destinasi.

Overtourism sudah dinilai sebagai suatu musibah. Sebabnya, suatu destinasi yang sudah kepenuhan turis bakal terkena dampak yang buruk.

Dari tingkah turis nakal yang tidak terkontrol, kemacetan hingga rusaknya destinasi tersebut akibat vandalisme dan lainnya.

Ada lagi tempat-tempat yang akan mengenakan tiket masuk yang dinilai terlalu mahal. Ada dua destinasinya, yaitu Taman Nasional Galapagos di Ekuador dan Pulau Komodo di NTT, Indonesia.

Kabarnya, pemerintah Indonesia mewacanakan tiket masuk ke Pulau Komodo di Taman Nasional Komodo sebesar USD 1.000 atau setara dengan Rp 14 juta (dalam kurs Rp 14 ribu). Walau masih wacana, sudah bikin was-was turis dan operator tur.

Berbangga-lah daerah-daerah yang bisa mengendalikan overtourism, karena dengan cara ini dipastikan destinasi yang ada akan lebih nyaman untuk dikunjungi.

(adh)