Food Heritage Itu Berasal Dari Desa Wisata Hanjeli (Part II)

oleh -

JALAJAHNUSAE.com – Founder Desa Wisata Hanjeli, Asep Hidayat mengatakan, pengembangan tanaman biji-bijian yang kemudian dikenal dengan Hanjeli, tak cukup hanya pada tujuan konservasi sumber daya alam saja.

Tetapi bagaimana dari potensi alam yang dimiliki ini, bisa menumbuhkan wirawasta baru, baik yang langsung di pengelola produksi maupun pemberdayaan warga sebagai pemandu wisata.

Para buruh migran ini kemudian dilibatkan dalam kegiatan perekonomian di kawasan perekonomian. Mayoritas buruh migran ini, bertugas sebagai pemandu wisata dan tenaga riset.

“Selain itu, mereka juga dilatih membuat ketrampilan tangan seperti pemanfaatan barang bekas dan lainnya menjadi kerajinan yang cantik,” jelas Asep

Ditambahkan Asep, salah satu mantan buruh migran yang direkrut Desa Wisata Hanjeli bernama Wati. Jabatan Wati di destinasi wisata edukasi tersebut cukup mentereng.

“Buruh mirgan yang bekerja di wisata ini, sering dipanggil Mrs Wati. Ia memiliki kemampuan yang sangat mahir berkomunikasi dalam tiga bahasa asing yaitu Inggris, Arab, dan Kanton,” ujarnya.

Selain menguasai tiga bahasa, sambung Asep, ia juga memiliki keterampilan dalam menjelaskan soal tanaman hanjeli sebagai sumber karbohidrat alternatif kepada para wisatawan lokal, domestik maupun manca negara.

“Selain Mrs. Wati, masih ada dua mantan buruh migran yang disiapkan untuk menjadi guide berlevel internasional. Desa Wisata Hanjeli terus berupaya untuk memberdayakan buruh migran yang berdomisili di kawasan Jampang.

Mereka juga ditempatkan di rumah baca sauyunan, rumah aksesoris hanjeli, bagian memasak dan bidang lainnya,” imbuhnya.

Pihaknya sengaja telah memperkerjakan mantan buruh TKW di kawasan Desa Wisata Hanjeli, selain dapat meningkatkan nilai jual wisata tersebut, juga pihaknya mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk mengangkat harkat dan martabat para mantan buruh migran.

“Kami berkeinginan kuat untuk membuat mantan buruh migran ini, agar tetap berdaya secara mandiri agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya masing-masing. Sehingga mereka tidak lagi berangkat bekerja ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, tidak sedikit warga telah memandang kepada para mantan buruh migran itu, tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk bekerja di kawasan wisata itu.

Namun, dirinya menilai setiap orang mempunya potensi dan kelebihan yang luar biasa, apabila potensi tersebut digali secara tekin.

“Disini peran kami untuk menggali dan mengarahkan skill mereka supaya memiliki pekerjaan yang sesuai. Semoga saja banyak kalangan yang mau ikut terlibat langsung dalam pemberdayaan para mantan buruh migran untuk menjamin kelangsungan hidup mereka,” tandasnya.

(adh/bersambung)