Meski Kurang Baik, IMF Sebut Ekonomi akan Pulih 2021

oleh -
Managing Director IMF, saat berbicara tentang keadaan ekonomi global. Ia juga menyebut ekonomi baru akan pulih 2021. (Foto:IG-@the_imf)

JALAJAHNUSAE.com – Lembaga moneter internasional (International Monetary Fund-IMF) menyebutkan secara angka, pertumbuhan ekonomi dunia di tahun ini masih negatif meski tidak terlalu buruk.

Hanya, IMF memperingatkan pemulihan ekonomi dunia bakal panjang dan tidak pasti kapan benar-benar terjadi.

Dilansir dari CNBC International, Selasa (13/10/2020), pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini bakal minus 4,4%. Agak lebih baik sedikit dari ramalan sebelumnya di Juni 2020 yang sebesar minus 4,9%.

Ramalan ini dikeluarkan IMF, dengan mengasumsikan masih akan terjadi social distancing alias jaga jarak, akibat pendemi virus corona (Covid-19) yang masih berlanjut di 2021.

Penularan virus ini, menurut IMF baru akan turun pada akhir 2022.

“Kami memproyeksikan resesi yang agak kurang parah, meskipun masih akan dalam pada tahun 2020,” kata Kepala Ekonom IMF, Gita Gopinath, dalam World Economic Outlook terbaru IMF.

Dia menambahkan, revisi angka ini karena harapan adanya perbaikan ekonomi pada negara-negara maju dan China di akhir tahun ini.

Namun, ia mnggarisbawahi, IMF menyatakan krisis virus corona masih jauh dari akhir.

Sementara untuk tahun depan, IMF meramal pertumbuhan ekonomi dunia adalah 5,2%. Angka ini turun dari ramalan sebelumnya 5,4%.

Untuk negara berkembang ada emerging market, ekonomi pada tahun ini akan minus 3,3%. namun untuk negara seperti India, pertumbuhan ekonominya bakal minus lebih dari 10%.

Amerika Serikat (AS), ekonominya bakal minus 4,3% di tahun ini. Namun untuk negara seperti Inggris, Prancis, Italia, dan Spanyol bakal minus sekitar 10%.

IMF juga memperkirakan akan adanya kenaikan rasio utang hampir seluruh negara di dunia. Untuk negara maju, rasio utang akan mencapai 125% dari PDB hingga akhir 2021.

Sementara untuk negara berkembang atau emerging market bakal mencapai 65% dari PDB pada periode yang sama.

Meski begitu, IMF tidak khawatir akan peningkatan utang ini, karena bunga relatif rendah, dan perekonomian akan kembali pulih di 2021, yang akan memberikan kekuatan sejumlah negara untuk membayar utang-utangnya. (*/adh)