Tergiur Tekanan Ekonomi,Beberapa Negara Mulai Mengakhiri Lockdown

oleh -
Warga di Kota Quartiere Appio-San Giovanni Italia ini menyiapkan makanan dan minuman dipinggir jalan untuk warga tak mampu pada perayaan Paskah, Senin (13/4/2020). Foto:IG-@mlollobrigida

JALAJAHNUSAE.com – Tidak satu pun pemerintah di dunia berani memastikan kapan kemunginan puncak pandemi corona (Covid-19) akan terjadi. Yang terjadi adalah hanya sebatas mengira-ngira dengan mengandalkan data dan tanda-tanda.

Dengan mengetahui puncak tersebut, beberapa pemerintahan berharap dapat menentukan kapan mereka dapat membuka pembatasan atau lockdown demi memutar kembali roda ekonomi yang lumpuh selama berbulan-bulan akibat pandemi virus corona.

Namun, tidak ada yang tahu pasti kondisi seperti apa yang harus dipenuhi oleh suatu negara sebelum mereka dapat dengan aman melonggarkan kebijakan lockdown, dan meminimalisir potensi kedatangan gelombang kedua virus.

Berikut acuannya.

Jangan bertindak terlalu cepat

Sebagian dari para ahli mengaku khawatir pemerintah akan tunduk pada tekanan ekonomi dan sosial selama wabah, dan tergiur untuk mencabut kebijakan lockdown sebelum waktunya.

Mereka mencoba memberi saran kepada pemerintah untuk tidak tergesa-gesa membuka lockdown hanya karena alasan perekonomian.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa langkah-langkah yang terburu-buru seperti itu dapat membuka potensi Covid-19 kembali mewabah, mengancam kehidupan masyarakat lebih lanjut.

“Mencabut pembatasan terlalu cepat dapat menyebabkan kebangkitan yang mematikan,” kata Tedros seperti dilansir dari AFP, Selasa (14/4/2020).