MASATA: Vaksin Covid-19 Dapat Membangun “Public Trust” Untuk Berkunjung Ke Destinasi

by -
Ilustrasi. Tari Tradisional Bali. (Foto:Pixabay)

BALI, Jalajahnusae.com – Semangat gotong royong seluruh stakeholders pariwisata di Provinsi Bali menuju kebangkitan industri pariwisata terus dilakukan.

Mulai dari campaign protokol kesehatan dalam program CHSE (Clean, Health, Safety & Environment) sejak beberapa bulan lalu hingga proses audit hingga saat ini.

Upaya tersebut digalakan dengan harapan  agar dapat berlanjut pada tahapan upaya pemulihan ekonomi ke depan.

Seiring dengan pendistribusian vaksin untuk menangkal COVID-19 yang telag tiba di Indonesia, maka saatnya pemerintah menentukan kemana dan sektor apa yang diprioritaskan untuk distribusinya pada tahap awal ini.

Tanpa mengabaikan azas pemerataan di tengah keterbatasan jumlah vaksin yang tersedia di periode kedatangan pertama ini, pemerintah dapat membuat pertimbangan yang tepat seiring dengan program pemulihan perekonomian di tengah masa pandemi ini.

Demikian benang merah yang bisa ditarik dari perbincangan Jalajahnusae.com, Jumat (11/12/2020) bersama Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) sebagai komunitas pemerhati, pelaku dan pendukung industri kepariwisataan Indonesia.

Panca Rudolf Sarungu, Ketua Umum DPP MASATA. (Foto:Ist)

Mereka memberikan masukan bahwa segala sesuatu tindakan penangangan dan pemulihan masa pandemi ini harus bersifat strategis dan terintegrasi dengan program yang telah diluncurkan sebelumnya.

“Hal ini untuk menghindari ada yang sia-sia dari dengan apa yang telah dijalankan sebelumnya. Kami contohkan seperti di Bali, central hub industri pariwisata Indonesia yang telah mendunia sejak dulu, itu mesti menjadi prioritas utama untuk menyambung dari apa yang telah dijalankan pemerintah pusat untuk merangsang kebangkitan ekonomi bangsa seperti perhelatan dan pertemuan-pertemuan nasional. Jadi sektor pariwisata yang saat ini menjadi tumpuan pembangunan mesti diperhatikan sebagai prioritas utama,” kata Panca Rudolf Sarungu, selaku Ketua Umum DPP MASATA.

Ketua DPD MASATA Bali I Made Ramia Adyana. (Foto:Ist)

Sementara di Bali sendiri memang sedang banyak dibahas saat ini tentang pendistribusian vaksin tersebut.

Setali tiga uang, Ketua DPD MASATA Bali I Made Ramia Adyana menyampaikan bahwa usaha pariwisata di Bali sejak Juni 2020 lalu telah gencar menyiapkan sekaligus mengimplementasikan program protokol kesehatan CHSE sebagai bentuk antusiasme tinggi dalam menyongsong kebangkitan perekonomian.

Ada 3 program audit CHSE yang berlangsung di Bali yakni dilakukan oleh Pemprov dan Pemkab/Kota, dilanjutkan dengan program Kemenparekraf mulai Oktober lalu.

“Tercatat  mencapai 900-an tempat usaha seluruh Bali yang telah diaudit sehingga kesiapan kami di Bali ini perlu didukung secepatnya dengan pendistribusian vaksin anti COVID. Khususnya,  untuk tenaga kerja pariwisata sebagai garda terdepan dalam berinteraksi dengan wisatawan baik domestik maupun mancanegara,” katanya.