ASITA Sumedang Harus Bisa Mendongkrak Destinasi Wisata

oleh -
Musyawarah Cabang (Muscab) ke-1 BPC Kabupaten Sumedang, Jawa Barat akhirnya menetapkan Iyan Permana sebagai Ketua ASITA Sumedang periode 2020-2025. (Foto:Ist)

SUMEDANG, Jalajahnusae.com – Asosiasi Pengusaha Pariwisata Indonesia– Asosiasition The Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA) Sumedang harus bisa mendongkrak destinasi wisata untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah lain.

Disamping itu asosiasi yang mewadahi para pelaku usaha yang bergerak di bidang perjalanan ini juga saatnya melakukan paradigma pemasaran dengan mengikuti tren global.

“Terus terang, sampai saat ini Kabupaten Sumedang masih tertinggal dengan daerah sekitarnya, seperti Garut, Kuningan dan lainnya dalam hal promosi. Ini menjadi tantangan bagi pengurus ASITA Sumedang yang baru dibentuk, bagaimana bisa melakukan kolaboratif dengan pemerintah dan stakeholder pariwisata, untuk tujuan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Sumedang, Nana Mulyana kepada Jalajahnusae.com, Rabu (09/09/2020).

Nana—yang juga owner objek wisata Kampung Karuhun di Desa Citengah Sumedang Selatan dimintai tanggapannya dengan terpilihnya Yan Permana sebagai Ketua ASITA Sumedang periode 2020-2025 dalam Musyawarah Cabang (Muscab) yang berlangsung di Pendopo Induk Pusat Pemerintahan (IPP) Sumedang, hari ini.

Ketua PHRI Kabupaten Sumedang Nana Mulyana. (Foto: Ist)

Menurut Nana, pelaku usaha pariwisata di daerah yang dikenal dengan julukan Kota Tahu ini masih banyak menghadapi kendala dalam mengembangkan destinasi wisata. Padahal potensi alam yang dimiliki sangat luar biasa.

Kendala utama yakni belum terjualnya potensi wisata ke mancanegara karena minimnya upaya promosi ke luar negeri.

Selanjutnya, terkait dengan sumber daya manusia (SDM) dimana kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keberadaan pariwisata masih sangat rendah.

“Ini menjadi kendala serius, manakal ada kebijakan dari pemerintah dalam upaya pengembangan pariwisata tidak mendapat dukungan sepenuhnya,” ujar Nana.

Oleh sebab itu, saatnya pemerintah daerah memikirkan bagaimana paradgima ini dirubah sehingga orientasi masyarakat terhadap pentingnya pariwisata untuk pemilihan ekonomi bisa ditumbuhkan.