UX Designer Ini Ketagihan Work From Bali, Ada Suasana yang Berbeda

by -
Work From Destination
Ilustrasi. Bekerja dari tempat wisata kini sedang digalakkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Foto: istockphoto

BALI, Jalajahnusae.com – Sejak pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meluncurkan program Work from Bali, kini banyak traveler yang kembali melirik Pulau Dewata tersebut untuk stay sambil bekerja.

Bekerja sembari menikmati indahnya sunset Bali atau kulinernya memang bisa mendorong kineja kantor menjadi lebih produtif. Ini karena ada  yang berbeda, paling tidak memberikan  suasana kerja terasa lebih nyaman dan menyenangkan.

Seperti perbincangan yang dilansir detikcom terhadap dua traveler bernama Rayyan Oi dan Yoga Aries.

Rayyan bekerja sebagai UX designer dan telah tinggal di Bali selama tujuh bulan. Kepada detikcom, Ryyan menuturkan,  awalnya dia hanya berpikir untuk bekerja sementara di Bali, sekitar 2 pekan. Tapi, kok betah, eh tidak terasa dia sudah tinggal di sana selama tujuh bulan.

Baca Juga: “Work from Bali” Bisa Mendorong Keterisian Kamar Hotel Hingga 30 Persen

“Kalau gue pribadi kerja kebetulan di digital agency, bidangnya lebih fokus di influencing marketing sih jadi memang sangat amat oke buat kerja remote dan selama pandemi aktivitas di kantor full WFH. Jadi. aku memutuskan untuk pindah ke Bali. Total kalau dari pertama pindah itu udah masuk bulan ketujuh,” kata Rayyan.

“Dan, selama tujuh bulan di Bali ini udah pindah ke beberapa tempat juga, sih. Pernah tinggal di Sanur, pernah tinggal di Canggu, dan pernah juga tinggal di daerah Seminyak, Ubud walaupun di Seminyak, Ubud singkat-singkat, sih nggak ada yang bulanan,” dia menjelaskan.

“Kalau misalkan untuk kondisi saat ini, kalau dibandingkan dengan saat pertama kali aku datang, udah banyak banget peningkatannya sih, karena memang sekarang Bali sudah jauh lebih ramai, lebih aktif juga pariwisatanya dan lainnya, pantai-pantai juga udah mulai ada pengunjungnya,” Rayyan membeberkan.

Rayyan bilang Work from Bali membuatnya bisa mendapatkan satu kemampuan yang dulu sulit banget dilakukan. Kini, dia bisa berenang.

“Kalau untuk perubahan gaya hidup, ngeliat dari 1 tahun terakhir. yes ada banget. Karena memang ya sebagai contoh satu, pertama kali gue ke Bali gue nggak bisa berenang. Tapi kebetulan sekarang kan udah dapat tempat tinggal yang ada kolam renang, ada laut, jadi sering nyebur dan sekarang Thanks God udah lancar,” kata Rayyan.

Baca Juga: “Work From Bali” Untuk Keseimbangan Atasi Pandemi dan Pemulihan Ekonomi

“Jadi, ya itu salah satu kebiasaan baru, bener-bener kaya,’oh setiap hari renang ah’, walaupun kalau dibandingkan sama sekarang sudah nggak terlalu sering lah untuk berenang,” dia menjelaskan.

Rayyan juga makin mengenal destinasi wisata Bali. Terutama, pantai-pantai yang ada di Pulau Dewata.

“Kalau ke pantai, itu bisa dibilang jadi rutinitas setiap minggu sih, karena ya kapan lagi merasakan dan gua juga bisa dibilang orangnya lumayan suka explore, lumayan keliling juga sih pantai-pantai dari sisi timur, utara, selatan Bali. Jadi udah lumayan banyak banget juga yang dicobain,” dia memaparkan.

Ongkos untuk Work from Bali

Traveler penasaran kan bagaimana dengan biaya hidup di Bali? Ryyan juga berbagi tentang bagaimana dia mengatur keuangannya selama di Bali.

“Selama di Bali sempet pindah-pindah tempat ya, cuma tarifnya antara Rp 1,5 juta dan paling mahalnya Rp 2,5 juta per bulan. Dan, untuk harga tersebut tuh udah dapat ibarat kata kos-kosan rasa vila banget, gitu,” ujar Rayyan.

“Nah, kalau gua pribadi, gua ada biaya lain, yaitu sewa motor kan, sampai saat ini masih sewa dan untuk sewa motor kalau motor matic umumnya sebulan kisaran 600-800 ribu. Jadi, kalau kita tambahkan biaya kos masih nggak terlalu mahal, nggak sampai di atas 3 juta sebulannya,” dia menjelaskan.

Baca Juga: Tak Hanya Bali, Sandiaga Gagas Program Work From Any Destination

Beda dengan Rayyan, Yoga belum lama merasakan Work from Bali. Dia sih memanfaatkan waktu Bali yang satu jam lebih dulu ketimbang Jakarta.

“Karena di sini lebih cepat sejam daripada Jakarta, jadi gue tuh bisa bangun lebih pagi dan kayak paginya itu bisa ke pantai dulu, jogging dulu gitu. Kalau misalnya di Jakarta tuh kayak bangun tuh udah siang gitu,” kata Yoga.

“Gue tinggal di Canggu dan sekarang di sini sudah ramai. Kalau udah siang hari juga udah mulai macet,” kata Yoga.

Yoga bilang pengeluaran lebih kecil dibandingkan saat berkantor di Jakarta.

“Per bulan itu Rp 2,5 juta untuk 1 kamar di sejenis hotel gitu, jadi ada room servicenya juga, dibersihin, ada kolam renang, kulkas, dan pokoknya bentuknya kayak vila. Bayangin 2,5 dibagi 2, berarti sekitar 1,25. Bahkan, kosan gua yang 1,5 di Bintaro itu jelek banget dan kamar mandi di luar,” dia mengisahkan.

Dengan pesona alam, biaya hidup rendah selama Work from Bali namun tetap bergaji Jakarta, mereka sangat menikmati kesempatan Work from Bali. (*)

Sumber: detikcom