Whisnutama akan Galakkan Wisnus Berwisata di Indonesia

oleh -
Menparekraf Whisnutama usai Ratas di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/3/20). (Foto Setkab)

JALAJAHNUSAE.com – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf), Wishnutama berencana akan menggalakkan atau meng-encourage wisatawan nusantara (wisnus) untuk berwisata di Indonesia. Selain itu, Whisnutama juga akan menjajaki alih rute maskapai penerbangan.

“Karena kan kalau traveling pasti ada potensi virus, apa namanya, Corona-nya juga. Untuk mengurangi risiko itu lah. Dan kedua, tentunya yang paling penting menghidupi, apa, pariwisata Indonesia itu sendiri,” ungkap Whisnutama usai mengikuti Rapat Terbatas (ratas) di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/3/20), dikutip dari laman setkab.go.id.

Whisnu mengatakan, sekarang ini banyak potensi, pesawat-pesawat menuju ke China yang tidak bisa terbang ke sana akan ditawarkan kerja sama untuk mengalihkan tujuannya jadi ke Indonesia. “Kan ada potensinya, ke sana juga enggak ada kan saat ini yang bersamaan. Kita akan coba berdiskusi dengan airline-airline tersebut,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, bersama dengan Menhub Budi Karya Sumadi, dirinya berencana akan bertemu dengan sekitar 30-an airlines (maskapai) yang mungkin bisa mengalihkan rutenya ke Indonesia. Sehingga tetap membantu pariwisata di Indonesia.

“Jadi memang tidak mudah. Ini kan mengganti rute kan bukan kayak naik mobil berubah haluan. Tetapi kan, apa namanya, prosedurnya panjang. Tapi kita juga akan melakukan usaha tersebut,” lanjutnya.

Menurutnya, Pemerintah akan terus berusaha melakukan pemasaran atau marketing ke negara-negara lain di luar China, untuk menutupi kekurangan turis dari China. Secara umum Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan melakukan berbagai macam strategi untuk mengatasi kondisi tersebut.

“Karena kondisi ini bukan hal yang gampang, bukan buat Indonesia saja, semua negara juga mengalami problem yang sama,” tuturnya.

Mengenai pembatalan penerbangan, Whisnu menyampaikan alasannya karena baru berlangsung beberapa hari. Namun akan terus didapatkan report satu persatu dan angka yang belum solid akan didata dengan baik.

“Seperti kita ketahui wisatawan dari Tiongkok dalam masa setahun dua jutaan. Kalau dihitung dari segi devisa karena mereka US Dollar, berarti hampir 4 billion US Dollar. Ya kan, dari China saja,” tambahnya.

Lebih lanjut, Whisnu mengatakan, hal ini memang menjadi sebuah tantangan yang cukup berat buat pariwisata, tetapi yang menjadi prioritas utama adalah kesehatan melindungi bangsa Indonesia.

“Kesehatan bangsa Indonesia tentu jadi prioritas yang utama buat kita. Itu adalah satu hal yang utama. Tapi memang akan mempunyai dampak dari pariwisata akan sangat lumayan besar,” ungkapnya.

Virus Corona, menurut Whisnu, bukan hanya berdampak pada wisatawan dari Tiongkok, namun negara-negara lain pun secara psikologis akan menunda. Dan ini terjadi di masa-masa yang paling krusial, Februari, Maret, dan April.

“Karena kenapa? Ini masa-masa orang melakukan booking untuk liburan, bulan-bulan di bulan Summer, liburan musim panas. Timing-nya memang benar-benar berat, misalnya, katakan 3 bulan lagi kelar, tapi kan booking-nya buat musim panas. Kebanyakan orang jauh-jauh hari, supaya dapat tiket murah dan lain sebagainya. Nah, ini yang terjadi. Jadi memang tantangannya cukup luar biasa,” paparnya.

Sementara untuk tujuan wisata, ia menyebutkan di Bali ada beberapa hotel yang sudah banyak mengalami penurunan tamu.

“Saya enggak bisa average, dari pagi juga saya mau menghitung berapa sebenarnya karena hotel sudah banyak sekali yang turun. Enggak bisa sebutkan angka, tapi kan sekarang baru kejadian kita bisa meng-average kira-kira sudah sebulan ibaratnya, seminggu, dalam seminggu berapa. Jadi memang bukan hal yang mudah,” pungkasnya.***(IG)