Membayar Influencer Asing Rp 72 Miliar,Mampukah Pariwisata Indonesia Bangkit

oleh -
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Badung,Bali Gusti Ngurah Rai Suryawijaya (kanan) bersama Bupati Karawang dr. Cellica Nurrachadiana di acara Munas XVIII PHRI 2020 di Hotel Resinda, Karawang beberapa waktu lalu. Foto: Jalajah Nusae/adhi

JALAJAHNUSAE.com – Ditengah upaya recovery akibat gejolak tingginya harga tiket pesawat domestik, pariwisata Indonesia kini menghadapi persoalan baru. Apalagi kalau bukan merebaknya wabah virus corona.

Dampak dari penyebaran virus mematikan tersebut,tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman),khususnya dari daratan China  mengalami penurunan cukup dratis.

Untuk mengantisipasi supaya kunjungan wisman tidak semakin terjun bebas, pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan,termasuk memberikan stimulus. Salah satunya dengan menggelontorkan anggaran sebesar Rp 72 miliar untuk membayar influencer asing.

Pertanyaannya adalah seberapa efektif cara ini untuk mengundang kembali para wisman datang ke destinasi Indonesia.

“Saya optimis, ini cara lain kita meyakinkan dunia bahwa pariwisata Indonesia baik-baik saja. Melalui blogger,famtrip,dan influencer asing, pesan yang disampaikan sangat ampuh dan  berpengaruh besar. Sekian miliar orang di dunia akan bisa baca dan menonton pariwisata kita melalui platform digital,” demikian disampaikan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Badung,Bali Gusti Ngurah Rai Suryawijaya ketika dihubungi Jalajahnusae.com,Senin (02/03/2020).

Menurut Rai, dalam industri 4.0 informasi dan komunikasi melalui media digital dinlai menjadi sangat penting.

“Melalui teknologi ini, kita bisa cepat menyampaikan pesan ke seluruh dunia. Oleh sebab itu, saya meyakini kebijakan pemerintah melibatkan influencer dunia sangat tepat. Cara itu, bisa membantu membangun opini,” kata Rai.

Ditambahkan Rai, beberapa waktu lalu pihaknya bersama Gubernur Indonesia,Gubernur Bali,unsur BUMN melakukan rapat di Bebek Tepi Sawah. Dalam last meeting tersebut juga bertemu dengan grup besar dari Moskow,Rusia.

“Disana kita mewawancari mereka, how do they like Bali ? Hasil wawancara ini, baik dalam bentuk bahasa Indonesia dan Inggris kemudian menjadi viral. Mereka menggambarkan dari cara atraksi, beautiful island dan lain-lainnya,” lanjutnya.

Rai menghimbau, pelaku dunia pariwisata Indonesia harus membangun optimisme dan menghindari ketakutan yang berlebihan.

Spirit ini juga  yang akan dibawa dalam pertemuan dengan stakeholder pariwisata di Bali pada 6 Maret 2020 mendatang.

“Pertama, kita di Bali ini kan bicara pariwisata tidak bisa parsial,tetapi harus bersatu padu. Jadi bersinergi,baik ditingkat kabupaten,provinsi dan pusat.  Nanti semua kebijakannya bersama-sama dari pusat. Apalagi,khususnya di Bali kita harus menciptakan atmosfir, one island,one management,one voice,” papar Rai.

Dalam kondisi seperti sekarang,lanjut Rai, kebersamaan sangat diperlukan untuk mendukung satu daerah dengan daerah lain dalam menguatkan sektor pariwisata.

“Dalam bisnis pariwisata multiplier effect-nya sangat luas, maka dari itu kita harus melakukan sesuatu dan bersama membangun soliditas. Tidak bisa, misalnya Sumatera Barat,Jakarta, Jawa sendiri-sendiri. Apalagi Bali menjadi barometer pariwisata tanah air,tentu harus menjadi etalase terbik,” tutupnya.

Seperti diketahui sebelumnya, pemerintah menyediakan dana Rp 10,3 triliun untuk insentif di tengah merebaknya virus Corona. Khusus di sektor pariwisata, pemerintah menganggarkan Rp 298,5 miliar.

Rincian di bidang wisata itu, insentif untuk maskapai dan travel agent sebesar Rp 98,5 miliar, anggaran promosi wisata Rp 103 miliar, kegiatan pariwisata Rp 25 miliar, dan influencer Rp 72 miliar.

Tentunya, langkah di atas merupakan strategi untuk menarik wisatawan asing untuk liburan ke Indonesia di tengah kasus virus Corona dimana sudah ada 2 orang WNI yang terkena virus Corona.

Namun, jumlah uang puluhan miliar yang digelontorkan Pemerintah RI untuk menggaet influencer asing memang bukan jumlah sedikit. Hanya saja, Indonesia bukanlah satu-satunya yang melakukan itu.

Tahun lalu, Pemerintah Arab Saudi mulai mengeluarkan turis dan membuka negerinya di bawah bendera pariwisata.

Dengan tagar Visit Saudi, Arab Saudi diketahui juga menggelontorkan dana miliaran dolar untuk mengundang influencer asing.

Walau tak disebutkan kisaran nilainya, tapi seorang influencer di Uni Emirat Arab (UEA) dibayar sekitar USD 1.000-5.000 (Rp 14-71 juta) untuk setiap unggahannya seperti diberitakan situs Gulf News, Senin (2/3/2020).

Berkaca dari data itu, tentu ada biaya tak murah untuk membayar influencer asing untuk mempromosikan pariwisata suatu negara.

Hanya bagi Arab Saudi, itu adalah harga yang pantas untuk mengenalkan negerinya via media sosial.

Arab Saudi pun menggandeng sejumlah pihak untuk mengundang para influencer tersebut, salah satunya adalah Gateway KSA.

Diungkapkan oleh pendiri Gateway KSA dan CEO, Nelleke Van Zandvoort Quispel, bahwa mereka menyeleksi dan membayar penuh para influencer asing ternama untuk mempromosikan Arab Saudi.

“Para influencer memberi exposure pada Arab Saudi ke publik luas sekaligus menampilkan keindahan dari negara tersebut,” ujar Nelleke pada media Insider.

Tentu sudah jadi rahasia umum, bahwa para infuencer itu dibayar penuh dan ditanggung semua pengeluarannya saat menjelajahi itinerary yang telah disusun sedemikian rupa. Hal itu diungkapkan Gary Arndt, seorang fotografer travel ternama yang diundang Arab Saudi saat gelaran event Formula E di sana.

“Kami mendapat transportasi, penginapan dan makanan gratis. Kami mendapat akses VIP di tenda besar di track Formula-E. Saya bahkan bertemu dengan sejumlah pangeran. Mereka membuang banyak uang untuk ini,” ujar Gary.

(adh)