Jumlah Kunjungan Wisman Asal China Anjlok 80 Persen

oleh -
foto: dok

JALAJAHNUSAE.com – Masih terkait wabah virus corona, industri pariwisata Singapura terjun bebas alias  anjlok hingga 80 persen.

Berdasarkan pernyataan Perdana Menteri Lee Hsien Loong kepada media Jumat,31 Januari 2020 lalu, larangan kunjungan pada pelancong China benar-benar menyakiti Singapura. Mengingat warga China adalah pelancong terbanyak yang berkunjung ke Singapura.

Lee Hsien Loong menyampaikan bahwa pariwisata dari tempat lain juga akan terkena dampaknya mengingat orang-orang lebih waspada, lebih selektif pada makanan dan minuman, industri perjalanan dan hotel pun akan terdampak secara signifikan.

“Saya menduga bidang ekonomi juga akan terdampak akibat China yang sedang dalam kondisi setengah membatasi kegiatan mereka. Kondisi ekonomi mereka akan melambat sementara ekonomi kita (Singapura) sangat terikat dengan China yang merupakan mitra dagang terbesar Singapura,” jelas Lee Hsien Loong.

Menurut Lawrence Wong, jumlah pelancong dari China menurun drastis sebanyak 80 persen semenjak wabah virus corona menyebar, apalagi China melarang tur grup outbound.

Walaupun 18 persen pelancong yang datang ke Singapura berasal dari China, ekonom CIMB Song Seng Wun mengatakan bahwa tindakan pemerintah ini akan berdampak signifikan.

Song Seng Wun menyatakan bahwa industri pariwisata dan ritel akan terdampak dengan berkurangnya pengunjung dari China, tindakah pencegahan yang dilakukan pemerintah akan menyokong bisnis dan kepercayaan konsumen di Singapura.

“Dengan mengambil langkah yang drastis seperti ini, diharapkan hanya akan membatasi sedikit industri dan semoga dapat meminimalisir efek berlanjut pada sisi ekonomi lainnya, seperti industri manufaktur yang baru saja mulai pulih,” lanjut Song Seng Wun.

Song Seng Wun menambahkan bahwa dengan tidak adanya pelancong dari China, warga Singapura dan pelancong lain dapat melanjutkan kehidupan seperti biasa dan hal itu juga akan membatasi dampak pada bidang pariwisata.

“Kita tidak akan menyaksikan 3 menara di Marina Bay Sands Luxury Hotel kosong, di mana hal ini terjadi pada banyak hotel saat wabah virus sars menyebar. Sehingga pada kasus kali ini, tidak semua hotel akan tutup, hanya sebagian saja,” ujar Song Seng Wun.

Harapan Song Seng Wun, dampak ekonomi hanya akan terjadi pada kuarter pertama tahun ini dan akan pulih pada kuarter kedua.

Pada saat wabah sars tahun 2003, Singapura mengalami kerugian sekitar 5 miliar dollar Amerika Serikat dengan tingkat pengangguran sekitar 4,8 persen.

Nigel Chua yang menjalankan Founder Bak Kut Teh mengatakan bahwa dia sedikit khawatir akan salah satu outlet-nyadi Jalan Sultan, pusat Singapura. Mengingat 35 persen pelanggannya adalah pelancong China.

“Mungkin kami akan melakukan sejumlah promosi supaya warga Singapura berkunjung ke sana (outlet Jalan Sultan),” lanjut Nigel Chua.

Alicia Seah, direktur marketing komunikasi agensi perjalanan Dynasty Travel beranggapan bahwa larangan kunjungan ini akan berdampak besar hanya sementara tapi mendapatkan keuntungan lebih besar nantinya.

“Semakin cepat pemerintah menangani penyebaran wabah virus corona, maka semakin cepat segala hal kembali berjalan normal. Bila jumlah kasus virus corona di Singapura tidak meningkat maka pelancong lain (dari negara lain) pun akan berkunjung,” lanjut Alicia Seah.

Dynasty Travel akan mengurangi pengeluaran biaya dengan memangkas biaya iklan dan marketing dan juga menjalankan sejumlah acara.

Sementara itu, Jumat (31/01/2020) Singapore Airlines menyatakan akan mengurangi kapasitas rute ke China di Bulan Februari akibat dari wabah virus corona.

Pada laman Facebook, dinyatakan bahwa pemangkasan juga termasuk penerbangan ke Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen, di antaranya oleh maskapai regional SilkAir.

Maskapai penerbangan berbiaya rendah, Scoot, mengatakan akan menangguhkan penerbangan ke 11 kota di China mulai awal Februari sampai akhir Maret dan akan memangkas penerbangan ke 8 destinasi lain di China.

(adh/kom)