PHRI Melaporkan 698 Hotel Sudah Tutup,Pemerintah Harus Keluarkan JHT

oleh -
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi B. Sukamdani.Foto: Jalajah Nusae/adhi

JALAJAHNUSAE.com – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) melaporkan saat ini tercatat ada 698 hotel yang tersebar di seluruh Indonesia terpaksa tutup.

Hotel berhenti beroperasi sementara karena dampak penyebaran virus corona (COVID-19). Ribuan nasib para pegawai juga belum menentu.

“Jadi perusahaan menerapkan cuti di luar tanggungan perusahaan, unpaid leave, cuti yang tidak dibayarkan. Itu yang terjadi seperti itu karena perusahaan tidak punya dana cash yang cukup,” ungkap Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani kepada detikcom, Rabu (1/4/2020).

Menambahkan Hariyadi, Sekjen PHRI Maulana Yusran membeberkan penutupan hotel yang berdampak pada gaji karyawan itu sebagian besar terjadi di Bali, Jawa Barat, DKI Jakarta, Manado, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sebagainya.

Wakil Ketua Umum PHRI Yusran Maulana. Foto: adhi

Ia meminta pemerintah terutama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memperhatikan betul fenomena ini. Sehingga, dapat mengetahui kebijakan apa yang diperlukan.

“Yang kita butuhkan itu sudah kita sampaikan berkali-kali, dan sudah kita presentasikan itu. Bahwa kita butuhnya kebijakan di dalam situ,” kata Alan—begitu Maulana Yusran sering disapa.

Menurut Alan,pariwisata adalah sektor yang paling terdampak dalam hal ini. Penurunan okupansi hotel juga  berlangsung begitu cepat.

“Itu, problem kita. Jadi kekuatan cash flow kita pun, yang tadinya bisa bertahan 3 bulan, tapi kan nggak semua juga bisa bertahan 3 bulan. Ada yang tidak bisa,” jelasnya.

Untuk menangani dampak unpaid leave lebih besar kepada tenaga kerja di sektor perhotelan, ia meminta pemerintah mengeluarkan bantuan.