Tiga Atraksi Budaya Ramaikan Festival Budaya Lembah Baliem 2019

oleh -
Rumah Honai yang disiapkan untuk festival. (Dok. pesona.travel)

JALAJAHNUSAE.com – Acara tahunan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua bertajuk “Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2019” siap digelar bulan ini.

Festival yang telah digelar sejak 1989 ini, gaungnya sudah mendunia. Banyak wisatawan mancanegara turut hadir setiap tahunnya. FBLB tahun sekarang akan berlangsung mulai 7 sampai 10 Agustus 2019.

Bersumber dari laman pesona.travel, kali ini wisatawan untuk menuju lokasi harus melewati jalan memutar, sebab rute yang biasanya dilewati dan bisa ditempuh hanya dalam 10 menit, kondisinya sudah rusak parah karena berada di samping sungai yang terus terkeruk.

Sementara untuk jalan memutar, waktu tempuh berkisar 40 menit, dengan medan jalan berbatu. Jika hendak ke lokasi, disarankan agar naik kendaraan roda empat saja.

Festival yang sudah menginjak usia 30 tahun tersebut, bakal diramaikan dengan 3 atraksi budaya istimewa dari Lembah Baliem. Ketiga atraksi itu diantaranya:

Barisan Honai
Honai itu sudah berbaris dan tertata rapi di Distrik Walesi. Sebagian warga yang terlibat, mulai mendirikan honai-honai yang mengitari lapangan. Tribun permanen telah diatur rapi, ditambah satu tribun yang dibangun di samping lapangan.

Dari lokasi yang berada di ketinggian, tampak lanskap Kota Wamena dan barisan Pegunungan Jayawijaya memagari Lembah Baliem yang berudara sejuk. Tampak pula ternak-ternak sapi berkeliaran di padang rumput, menambah keindahan di sekitar lokasi festival.

Ritual Adat Suku Hubula
Atraksi kedua yaitu ritual adat Suku Hubula. Berupa atraksi kolosal perang-perangan, tari-tarian tradisional (ethai) dan seni merias tubuh dengan ragam aksesori hasil kreasi Suku Hubula.

Ditambah pertunjukan alat musik tradisional (pikon dan witawo), atraksi memasak tradisional (bakar batu), permainan anak (puradan dan sikoko), lempar sege, dan karapan babi.

Tersaji juga berbagai atraksi dari Suku Hubula lainnya, seperti atraksi proses kelahiran, inisiasi atau pendewasaan, pernikahan, pekerjaan, kematian, perang-perangan, dan bagaimana cara memasak tradisonal bakar batu.

Tarian kolosal FBLB 2019, bertema “Peradaban”. Melibatkan sekitar 500 lebih penari yang berasal dari pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Wamena yang dipandu koreografer Titov.

Titov mengatakan, “Untuk melatih siswa-siswi dengan jumlah ratusan ini memiliki tantangan besar, dan butuh kesabaran. Apalagi, mereka baru sebulan latihan. Namun hasil yang diharapkan nantinya bisa memuaskan”.

Pentas tarian kolosal tersebut akan diiringi dengan beberapa alunan musik tradisional wilayah pegunungan Papua. Sesuai tema, tarian ini akan menceritakan kehidupan masyarakat Suku Hubula, mulai dari kelahiran, sampai tumbuh dewasa dan bisa bercocok tanam, dan tentang regenerasi.

Noken 60 Meter
Atraksi ketiga yang tak kalah serunya yaitu pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Untuk kategori noken terbesar. Noken merupakan jenis tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu.

Noken yang dipersiapkan untuk rekor MURI adalah noken berbahan asli dari alam sekitar. Dirajut oleh sepuluh pekerja atau mama-mama di Kampung Wagawaga, Distrik Kurulu, dengan panjang 30 meter. Noken inipun sudah siap dibawa ke lokasi festival.***(IG)