Mengenal 4 Fakta Menarik Jam Gadang

oleh -

JALAJAHNUSAE.com – Mendengar kata Jam Gadang, ingatan kita pasti tertuju ke Sumatera Barat, tepatnya Kota Bukittinggi. Ya memang ikon kota Bukittinggi tersebut sudah tersohor ke mana-mana. Bahkan tak sah rasanya jika berkunjung ke Bukittinggi, tanpa mengunjungi tugu Jam Gadang.

Nama ‘Gadang’ sendiri diambil dari bahasa Minangkabau yang memiliki arti ‘besar’. Sehingga Jam Gadang berarti menara tinggi besar dengan wujud atap seperti rumah khas Minang.

Selain megah, Jam Gadang juga menyimpan 4 fakta menarik yang belum diketahui banyak orang, seperti dilansir laman Pesona Indonesia. Berikut fakta menarik tersebut.

Hadiah Pemberian Ratu Belanda
Jam Gadang pada tahun 1926 mulai dibangun. Jam ini merupakan salah satu bentuk hadiah dari Ratu Belanda kepada sekretaris kota zaman pendudukan Belanda.

Saat itu, arsiteknya merupakan orang asli Indonesia yakni Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Hingga kini hadiah yang diberikan Ratu Belanda tersebut masih berdiri megah di Bukittinggi.

Mirip Big Ben London
Jam Gadang mempunyai tampilan mirip dengan bangunan jam yang ada di London, yakni Big Ben. Namun bukan itu saja, mesin penggerak Jam Gadang dengan Big Ben pun sama karena dibuat oleh orang yang sama.

Brixlion merupakan sebutan untuk mesin penggerak manual yang dibuat seorang bangsawan ternama pada saat itu, yakni Forman. Menurut sejarah, mesin Brixlion ini hanya ada dua di dunia, yakni pada penggerak Jam Gadang dan juga Big Ben. Hal itu tentu saja merupakan sebuah kebanggaan untuk masyarakat Indonesia.

Sekali Ganti Bandul Jam
Tahun 2007 lalu, bandul jam sempat patah, saat Indonesia mengalami bencana gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat cukup hebat. Gempa yang berkekuatan 5,8 hingga 6,4 skala richter ini bahkan getarannya terasa hingga Singapura dan Malaysia.

Pada saat itu, bandul penggerak Jam Gadang putus. Namun pemerintah segera melakukan pergantian sehingga bandul yang dilihat wisatawan pada saat ini adalah versi baru.

Tanpa Rangka Besi dan Semen
Jam Gadang memiliki luas alas 13×4 meter dan tinggi 26 meter, namun faktanya bangunan ini dibuat tanpa rangka besi dan semen. Karena pembangunan Jam Gadang ini menggunakan campuran putih telur, pasir putih, dan kapur. Tentu saja hal itu menjadi salah satu bukti kehebatan dari teknik pembangunan zaman dulu.***(IG/Foto: Pesona Indonesia)