Kampung Keteb, Eduwisata Baru di Kebumen

oleh -

JALAJAHNUSAE.com – Destinasi wisata di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah kini bertambah dengan hadirnya Kampung Keteb. Kampung wisata yang mengusung konsep eduwisata (wisata pendidikan).

Kampung yang berlokasi di Dukuh Nusatutub, Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah ini, telah diresmikan Bupati Yazid Mahfudz pada Minggu (1/3/2020) lalu.

Konsep eduwisata tersebut, memadukan wisata alam, budaya, dan kuliner. Di sana dapat dijumpai sistem edukasi berupa pembelajaran gamelan, hidroponik, dan outbond.

Pesonanya semakin lengkap dengan suasana pemandangan areal persawahan yang menawan, suguhan kuliner khas Jatijajar yang memanjakan lidah. Serta dilengkapi dengan permainan anak tradisional dan kolam renang.

Menurut Bupati Yazid, saat ini Pemkab Kebumen gencar mempromosikan daerah-daerah potensi wisata supaya Kebumen kian maju dan dikenal masyarakat luar daerah. Sehingga pertumbuhan ekonomi masyarakatnya semakin meningkat.

“Pemkab pasti membantu mempromosikan Kampung Keteb sebagai salah satu destinasi wisata baru di bidang pendidikan,” ungkapnya, dikutip dari laman resmi Pemprov Jawa Tengah.

Yazid menerangkan, pemerintah daerah berupaya mendorong pertumbuhan industri pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat.

“Ke depan kekuatan ekonomi ada di desa, bahkan desalah yang menjadi ujung tombak pembangunan nasional. Sehingga kami dorong agar setiap desa mempunyai potensi yang dapat dikembangkan sendiri,” lanjut Yazid.

Sementara itu, Ketua Pengelola Kampung Keteb, Muhtar Fauz memaparkan, Kampung Keteb merupakan destinasi wisata yang menonjolkan kekayaan alam berupa areal persawahan.

“Nama Keteb sendiri diambil dari istilah sebuah tempat di pinggiran sawah,” ujarnya.

Muhtar menambahkan, Kampung Keteb hanya buka sekali dalam sepekan, yaitu setiap hari Minggu. Targetnya, wisatawan yang datang adalah keluarga yang membutuhkan suasana santai.

Selain itu, tersedia juga kuliner tradisional Jatijajar yang ditawarkan. Pengunjung bisa menikmatinya di sejumlah gazebo yang ada di tepian sawah.

Cara membelinya, tutur Muhtar, pengunjung harus menggunakan mata talen, yakni mata uang yang terbuat dari tempurung kelapa. Adapun nilai tukar satu talen sama dengan dua ribu rupiah.

Pengunjung pun bisa mencoba sejumlah wahana permainan anak tradisional, seperti egrang, kuda-kudaan, dan mobil-mobilan. Atau memilih belajar cara menaman tanaman dengan metode hidroponik. Bahkan, di sana ada pilihan kelas latihan gamelan secara gratis.

“Bagi pengunjung yang ingin belajar gamelan, kami sediakan guru dari paguyuban dalang Kecamatan Ayah,” pungkas Muhtar.***(IG/Foto: dok. Pemprov Jateng)