Maskapai Garuda Berencana Menaikan Harga Tiket

oleh -
ilustrasi. Garuda Indonesia membuka kembali penerbangan domestik dari dan menuju wilayah PSBB dan Zona Merah per 7 Mei 2020. foto:@garuda.indonesia

JALAJAHNUSAE.com – Maskapai Garuda Indonesia berencana menaikan harga tiket hingga 20 persen. Kebijakan ini diambil untuk menutup kehilangan keuntungan selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Seperti diketahui, Kementerian Perhubungan memperbarui kebijakan batas angkut jumlah penumpang di PSBB transisi menjadi 70% dari semula 50%.

Namun peningkatan batas maksimal jumlah penumpang dianggap belum menjadi solusi bagi industri penerbangan.

Oleh karena itu, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tengah bersiap merevisi harga tiket penerbangan.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra mengatakan, saat ini pihaknya sedang fokus untuk mencari cara agar pelanggan tak menanggung biaya tambahan, misalnya saja sekarang ini penumpang pesawat harus memiliki surat bebas corona hasil rapid test.

Menurutnya, dengan adanya tambahan biaya bagi pelanggan dapat memangkas jumlah penumpang. Kalaupun tingkat okupansi terisi penuh sebesar 70%, emiten ini masih harus menutup kehilangan keuntungan.

“Pertanyaannya adalah, apakah ada biaya yang bisa diturunkan? Apakah harga avtur bisa diturunkan, atau harga parkir juga bisa diturunkan?” ungkapnya pada saat diskusi online, Selasa (9/6/2020).

Selain menekan biaya operasional, sambungnya, menaikan harga tiket juga bisa menjadi salah satu alternatif bagi perusahaan ini.

Ia mengaku pihaknya masih membahas mengenai penyesuaian harga tiket.Yang jelas, kalaupun ada kenaikan harga tiket maksimal 20%.

“Kalau kami naikkan maksimum 20% enggak sampai dua kali lipat,” tambahnya.

Ia juga memprediksi prioritas pelanggan ke depan akan lebih kepada rasa aman dan nyaman. Sehingga, penumpang tak hanya memilih maskapai dari segi harganya saja, tapi juga keselamatan dan kenyamanan.

Penyesuaian harga tiket ini juga sejalan dengan emiten bersandi GIAA ini menjalankan protokol kesehatan lantaran membutuhkan biaya lebih.

Tak hanya melakukan efisiensi, untuk mendulang pendapatan GIAA dengan menggejot pendapatan dari kargo.

Perusahaan ini mengoptimalkan bisnis angkutan pengiriman kargo dan memasang target pergerakan traffic yang lebih tinggi.

Sepanjang tahun 2019, PT Garuda Indonesia Tbk berhasil membalik posisi rugi menjadi laba. GIAA mengantongi laba yang dapat diatribusikan pada pemilik entitas induk sebesar US$ 6,99 juta, dari sebelumnya yang masih mencatat rugi hingga US$ 231,13 juta.

(adh/ktn)