Tak Ada Rapid Test, Okupansi Hotel di Yogyakarta Naik

oleh -
Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Dedy Pranawa Eryana saat sesi wawancara dengan awak media setempat. foto: dok pribadi

JALAJAHNUSAE.com – Meski belum normal, okupansi hotel di Kota Yogyakarta perlahan-lahan mulai mengalami kenaikan.

Kebijakan untuk tidak menerapkan rapid test terhadap wisatawan menjadi salah satu faktor yang membuat wisatawan merasa nyaman.

“Iya, bagi wisatawan yang ingin ke Yogyakarta tidak wajib rapid test disini.  Cukup membawa surat keterangan dokter terutama yang dari zona hitam dan merah,” kata Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Dedy Pranawa Eryana di Yogyakarta, ketika dihubungi Jalajahnusae.com,Selasa (14/7/2020).

Menurut Deddy, okupansi rat MTD 10.27%. Untuk hotel bintang trennya juga  semakin bagus, terutama di hari Jumat-Sabtu bisa mencapai 40% sampai dengan 50%.

“Sedangkan untuk non bintang masih kisaran 5% sd 10%. Memang penyebaran belum merata. Kami berharap dengan semakin melandainya kasus corona, kedepan okupansi akan terus membaik hingga mencapai rata-rata di atas 60 persen. Dengan tagline guyub sesarengan kita siap di Jogja Wajar Anyar untuk menerima tamu,” tambahnya.

Menurut Deddy, pengelola hotel saat ini telah menempuh berbagai upaya untuk menaikkan okupansi kamar, salah satunya memberikan harga promo pada akhir pekan, sehingga harga kamar pada akhir pekan justru lebih rendah dibanding hari lainnya.