Okupansi Hotel Turun Musim Lebaran 2019

oleh -
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Sulawesi Selatan,Anggiat Sinaga akan mempertimbangkan kerjasama dengan operator virtual hotel yang tak mempertimbangkan kaidah bisnis. Foto:Ist

JALAJAH NUSAE – Okupansi hotel di beberapa daerah pada libur lebaran 2019 mengalami penurunan. Harga tiket pesawat yang masih mahal menjadi salah satu faktor terburuknya tingkat hunian untuk industri perhotelan d Indonesia.

“Saat ini okupansi di Makasar hanya rata-rata 20-25% saja. Memang Makasar belum kuat dari sisi destinasi wisata keluarga. Kondisi makin   diperparah lagi akibat harga tiket yang tak karuan hingga  banyak  pemudik atau wisnus mengurunkan rencana liburan atau silatuhrahmi,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Sulawesi Selatan, Anggiat Sinaga ketika dihubungi Jalajah Nusae,Kamis (6/6/2019).

Menurutnya, dibanding tahun lalu pada liburan lebaran tahun ini agak memburuk. Pada tahun lalu (2018) tingkat hunian hotel di Makasar masih diatas 30-35 persen.

Hal sama juga disampaikan Ketua PHRI Provinsi Banten Ashok Kumar tingkat hunian hotel tak sebagus tahun lalu.

“Terutama yang di pesisir pantai turun tajam. Memang saya belum menerima laporan lebih rinci tingkat penurunannya berapa persen,cuma teman-teman hotel mengungkapkan pada tahun ini agak kurang baik.

Sementara itu Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengisyaratkan bahwa pada musim mudik lebaran 2019 okupansi hotel diperkirakan turun antara 20-40%.

“Penurunan ini yang terburuk secara year to year. Masalahnya ada pada penurunan jumlah orang yang bepergian karena terhambat masalah harga tiket transportasi yang mahal,” ujar Maulana Yusran.

Maulana menambahkan dengan kenaikan tiket pesawat, masyarakat lebih memilih moda transportasi darat yang memakan waktu perjalanan lebih lama dibandingkanpesawat. Hal ini berdampak pada waktu menetap pengunjung hotel yang lebih sedikit.

Selain itu, ketidakmampuan maskapai penerbangan nasional berkompetisi dengan pemain dari negara lain dan tidak adanya extra flight atau penerbangan tambahan juga berimbas terhadap okupansi hotel.

“Yang diprediksi masih padat di pulau Jawa saja karena transportasinya paling lengkap tetapi di luar jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi saya skeptis akan kondisinya. Saya tebak ibu kota yang biasanya lenggang justru tidak banyak berkurang di lebaran tahun ini,” kata Maulana.

Lebih lanjut, tingkat okupansi hotel yang mengalami penurunan ini akan berbanding lurus dengan kondisi restoran.

“Kami melihatnya spender itu kan di ibu kota. Jumlah wisatawan domestik kita itu 275 juta, mayoritas adalah pegawai negeri dimana mereka biasanya memanfaatkan anggaran untuk melakukan kegiatan di daerah tetapi dengan adanya kenaikan harga tiket jadi berkurang. Multiplayer effect-nya ke hotel, ke restoran terutama yang di luar pulau Jawa,” ujarnya.

(adh/gtr)