Merugi Ratusan Juta, Asgeperindo Desak Pemerintah Buka Gedung Pertemuan

oleh -
Ilustrasi. Asgeperindo mendesak pemerintah untuk mengizinkan gedung pertemuan dibuka kembali. (Foto:IG-@louiz_herman)

JAKARTA, Jalajahnusae.com –  Asosiasi Gedung Pertemuan dan Tempat Resepsi Indonesia (ASGEPERINDO) mendesak pemerintah untuk segera memberikan izin gedung beroperasi. Hal ini perlu dilakukan guna meminimalisir semakin meruginya pengusaha di sektor ini.

Hampir enam bulan lamanya, para pengusaha tak mendapatkan pemasukan akibat izin pengoperasian gedung yang belum dikeluarkan. Untuk itu, melalui ASGEPERINDO, para pengusaha menyampaikan aspirasi mereka.

“Saya kira demikian, kita mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan izin operasi gedung. Di masa Covid-19 kita terpanggil dan ada hikmahnya kita bersatu bersama semua pengelola gedung di seluruh Indonesia. Bagaimana memulihkan perekonomian kita, sebab di belakang gedung ini masih banyak SDM,” kata Ketum ASGEPERINDO, Dwi Windiyarto di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Senin (07/09/2020).

Dwi mengatakan bila gedung tak segera beroperasi maka keberlangsungan hidup sumber daya manusia dibalik kegiatan pertemuan akan terancam.

Sebagai contoh, ia menyebutkan petani bunga dan catering. Ketika gedung tak beroperasi maka para petani bunga yang biasanya menyuplai untuk acara resepsi di gedung tak bisa memetik hasilnya.

“Di belakang kita butuh makan. Kalau kita terus tidak diizinkan beroperasi tentunya mereka akan menjadi korban. Saya berharap izin ini akan segera dikeluarkan mengingat mal dan tempat lainnya sudah dibuka,” jelasnya.

Jika dihitung, kerugian yang diderita para pengusaha gedung pertemuan mencapai  ratusan juta rupiah imbas pandemi Covid-19.

Selain izin yang belum ada, mereka juga mengikuti arahan dari pemerintah termasuk mematuhi protokol kesehatan yang ada. Oleh sebab itu, kerugian yang diderita para pengusaha pun cukup besar.

“Satu hal tentunya kerugian itu sangatlah besar. Dari enam bulan itu kalau kita lihat, satu bulan saja kita menderita kerugian untuk satu gedung tidak kurang dari Rp 200 juta. Maaf kalau kita kumpulkan menjadi 150 gedung jadi berapa. Itu baru satu gedung,” ungkap Dwi.

Dwi menuturkan kerugian pun bisa melebihi angka tersebut. Hal ini bisa dilihat dari tipe gedung yang digunakan untuk tiap acara yang masuk.

“Itu saya hitung gedung menengah ke bawah, kalau seperti gedung besar itu satu bulan kerugian kita lebih dari 1 M. Jadi kita harus bisa membedakan mana kerugian gedung kecil, gedung menengah, gedung besar. Kalau kita lihat lagi kerugiannya sangat besar,” sambungnya.

Meski begitu, para pengusaha tak ingin mengurangi karyawan yang ada.Terlepas dari pemasukan yang tidak ada, para pengusaha terus berupaya memberikan upah pada karyawannya.

“Jadi begini sebetulnya tujuan asosiasi ini ya itu untuk membantu manusia yang memang betul-betul menderita kerugian atau tidak bisa apa apa pada saat ini. Semua sektor sama, tapi kalau dirumahkan kita upayakan tidak, kita upayakan gaji tetap berjalan tentunya ada potongan entah 20 persen atau 50 persen,” jelasnya. (TBN/adh)