Tren Baru,Membangun Pariwisata Dengan Dana Dermawan

oleh -
Danau Toba di Sumatera Utara ini akan menjadi salah satu destinasi yang akan dikembangkan dengan skema blended finance. Foto: Jalajah Nusae/adhi

JALAJAHNUSAE.com – Pengembangan pariwisata dengan menggunakan skema pembiayaan dari dana dermawan (filantropi) akan menjadi tren di masa yang akan datang.

Spirit tersebut digaungkan Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan usai  menggelar rapat bersama para petinggi Bank BUMN di kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Rapat dihadiri Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo dan Direktur Tresuri dan Internasional BNI Bob Tyasika Ananta. Mereka membahas blended finance.

Blended finance merupakan skema pembiayaan yang bersumber dari dana filantropi atau dermawan yang dihimpun dari masyarakat untuk memobilisasi modal swasta.

Tujuannya untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan yang ditetapkan PBB melalui program Sustainable Development Goals (SDGs).

SDGs berisi 17 poin dan 169 target, yang intinya bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan di suatu negara.

Bob Tyasika menuturkan bahwa skema ini akan dipakai untuk menggerakkan pembangunan pariwisata di Indonesia. Salah satunya Danau Toba, Sumatera Utara.

“Konteksnya untuk menarik dana dari philantrophy fund buat masuk untuk menggerakkan pembangunan di Indonesia bisa pariwisata dan lainnya,” kata Bob Tyasika seusai rapat.

Ia mengatakan, pihak perbankan diajak untuk mendukung skema tersebut. Ia mengatakan BNI siap untuk mendukung skema tersebut.

“Ya, kita siap aja,” ucapnya.

Sementara itu, Haru Koesmahargyo menjelaskan, blended finance merupakan konsep baru. Ini bisa menjadi penjajakan baru untuk pengembangan daerah.

“Kita jajaki ini pengembangan daerah contohnya tadi ada Danau Toba. Karena ini tahap awal ini lagi liat skema bank gimana, masih introduction lah,” ucapnya.

Namun, menurutnya, banyak dana dari luar sebagai philantrophy fund belum terkelola baik. Ada masalah di risking dan pembiayaan.

(adh/cnbci)