Biro Perjalanan Masih Menatap Kosong Libur Akhir Tahun

by -
Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno dan Ketua Asita Jawa Barat, Budijanto Ardiansjah. (Foto: Jalajah Nusae/dok)

JAKARTA, Jalajahnusae.com  —  Beberapa sektor pariwisata di tanah hingga saat ini belum bisa kembali bangkit. Terutama, bisnis agen perjalanan yang benar-benar sangat merasakan pukulan berat akibat Pandemi Covid-19  sejak awal Maret 2020 lalu.

Begitu pun, liburan panjang yang hadir pada masa adaptasi kebiasaan baru beberapa waktu lalu tak banyak berpengaruh bagi agen perjalanan.

Oleh karena itu, mereka tak mau berharap banyak pada momentum liburan akhir tahun yang biasanya menjadi musim panen keuntungan.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno, perubahan pola berwisata masyarakat membuat peran agen perjalanan terpinggirkan.

Baca Juga: Alami Kerugian 10 Triliun Akibat Pandemi, ASITA Berharap Pemerintah Punya Perhatian

Pada masa adaptasi kebiasaan baru, masyarakat lebih memilih untuk berwisata menggunakan kendaraan pribadi bersama keluarga, alih-alih menggunakan kendaraan umum atau bergabung dengan paket wisata.

Selain itu, adanya tren staycation juga ikut berpengaruh terhadap agen perjalanan.

“Pola berwisata masih road trip, di satu pulau bersama keluarga menggunakan kendaraan pribadi. Ketika di destinasi (wisata) mereka lebih banyak juga stay di hotel. Kalaupun bepergian juga naik kendaraan pribadi. Kami yang mengemas akomodasi, perjalanan, mengarahkan atau menjadi guide terpinggirkan,” ungkapnya.

Baca Juga: Begini Harapan Asosisasi Pariwisata Terhadap Menparekraf Sandiaga Uno

Sementara itu, untuk permintaan paket wisata ke luar negeri, Pauline menyebut bahwa sudah ada permintaan walaupun jumlahnya masih sangat kecil.

Sejauh ini, agen perjalanan yang ada di Indonesia hanya menyediakan paket-paket wisata ke beberapa negara saja seperti Turki, Maroko, Uni Emirat Arab, Rusia, dan Uzbekistan.

Negara-negara yang menjadi favorit kunjungan masyarakat Indonesia seperti Korea Selatan, Jepang, dan Singapura hingga saat ini belum membuka pintunya untuk kunjungan wisatawan mancanegara untuk menekan penyebaran Covid-19.

Tentunya hal tersebut menjadi pukulan bagi agen perjalanan. Terlebih saat ini masyarakat cenderung enggan bepergian ke luar negeri lantaran khawatir tertular Covid-19 dan menghindari prosedur yang panjang sebelum berangkat atau saat berada di negara tujuan.

“Diskon juga tak banyak membantu. Jualan masih susah. Diskon yang ada juga tak bisa dibilang murah karena harganya masih jauh lebih mahal dibandingkan dengan diskon saat kondisi normal,” tuturnya.

Baca Juga: Sandiaga Uno: Silang Pendapat Soal Wisata Halal, Finish

Setelah tiga uang, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) juga merasakan “nasib” yang sama karena belum bergeraknya bisnis di agen perjalanan.

Alih-alih membuat paket perjalanan liburan akhir tahun, pemerintah sendiri sampai hari ini masih memperketat kegiatan di beberapa destinasi wisata.

Akibatnya, pelaku agen perjalanan pun masih harus menanggung beban yang cukup berat karena tidak adanya pergerakan bisnis.

Ketua Asita Jabar Budijanto Ardiansjah mengatakan, di sektor parwisata, anggota Asita merupakan elemen yang paling terdampak akibat dari pandemi Covid-19 ini.

“Kerugian hingga bulan Juni 2020 saja ditaksir mencapai 10 triliun, jika dihitung sampai Desember ini, mungkin kerugian akan jauh lebih banyak lagi,” katanya.

Budi memberi contoh, jika satu travel agen saja dalam setahun ada kontrak (nilai) masuk sebesar Rp 50 miliar atau Rp 20 miliar.

“Jika dikalikan dengan jumlah anggota ASITA Jabar yang mencapa 700 anggota, berapa kerugian yang diderita para anggota akibat pandemi Covid-19 ini,” ujarnya. (BI/adh)